Pengertian Rezeki Menurut Ahli Tafsir – Lengkap

Rezeki Menurut Ahli Tafsir

Beberapa hal yang tidak bisa diramalkan dalam kehidupan di antaranya ialah rezeki setiap orang. Namun, ternyata ada beberapa pengertian rezeki menurut ahli tafsir, sebagai bentuk pendalaman syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Konsep Rezeki dalam Agama Islam

Pernahkah Anda berfikir lebih mendalam mengenai rezeki? Tanpa banyak disadari, ternyata rezeki yang hadir pada kehidupan terbagi dalam dua konsep. Pertama berupa jasmani dan kemudian rohani. Di samping itu, hal paling berharga ialah seputar kekayaan iman, dimana tidak semua orang mendapatkannya.

Demi mendapatkan rezeki, manusia harus menempuh jalan yang sesuai dengan sesuai harapannya. Tuhan Yang Maha Esa telah membekali akal, dimana berguna sebagai modal dalam menempuh segala laku di atas muka bumi.

Konsep rezeki dalam kehidupan ini, kemudian semakin dipertegas Al-Qur’an dalam Qs. At-Thalaq ayat 1 dan 2. Yang bermaksud, Allah akan memberikan jalan keluar kepada setiap umatnya.

Pengertian Rezeki Menurut Ahli Tafsir

Apakah pengertian rezeki hanya diartikan secara monoton? Jawabannya ialah tidak. Sebab, pengertian rezeki menurut ahli tafsir jelas berbeda dan memiliki pemaknaan yang amat luas. Untuk lebih jelasnya dan agar Anda semakin paham, berikut beberapa pengertian rezeki menurut ahli tafsir, di antaranya:

1. Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi

Al-Imam Abdul Fida Isma’il Ibnu Katsir Ad-Dimasyqi dalam tafsir Ibnu Katsir Juz 9, menerangkan bahwasanya setiap orang yang beriman berhak mendapatkan berkah dari langit dan bumi. Hal ini disebutkan sebagai hujan dan tumbuhan untuk makan (bertahan hidup).

Hujan diberikan kepada mereka yang kekurangan air pada saat itu, sebab sumber utama kehidupan berasal dari sana. Sedangkan, tumbuhan agar manusia tetap bisa makan demi memenuhi gizi pada tubuh. Sehingga, beribadah tetap berlajan lancar.

2. Sayyid Qutub

Pengertian rezeki menurut ahli tafsir berikutnya adsalah Sayyid Qutub. Kitab Fii Zhilail Qur’an karya ahli tafsir Sayyid Qutub, telah banyak dijadikan bahan rujukan maupun referensi bagi para akademisi atau pemuka agama. Terutama dalam bidang penjabarannya mengenai makna rezeki.

Dalam tafsir Fii Zhilail Qur’an tersebut, Sayyid Qutub mengemukakan pendapat bahwa agama Islam merupakan way of life, dimana selalu ada jalan keluar atas setiap masalah. Terutama mengenai konteks rezeki. Barang siapa mau berusaha, maka Allah nampakkan kebesarannya.

3. Ibnu Jarir At-Thabari

Bernama lengkap Abu Ja’far Muhammad bin Jarir At-Thabari selain mufassir, ternyata juga seorang ahli tarikh (sejarah). Sebab keproduktifannya terhadap kajian keilmuan Islam, beberapa bukunya banyak diterbitkan, salah satunya yakni Tafsir Jami’ul Bayan.

Di dalamnya sangat gamblang tercermin keluasan ilmunya serta ketinggian penyelidikannya. Di samping itu, Beliau juga mengemukakan pendapatnya mengenai rezeki bahwa sebuah bentuk kecintaan Allah pada hamba-Nya.

4. Ibn Khaldun

Ahli tafsir yang satu ini pasti sudah banyak dikenal oleh masyarakat luas. Sebab, kepiawaiannya menelaah kajian keislaman, berbagai karyanya telah berhasil dijadikan rujukan hingga saat ini. Pemaknaan sederhana menjadikan lebih mudah dipahami.

Terkhusus dalam kata “Rezeki”, Ibn Khaldun memaknainya sebagai bentuk peran manusia yang mengelola sumber daya alam dari Allah SWT, guna mendapatkan keberlangsungan serta kesejahteraan dalam kehidupan.

5. Hamka

Kata “Rezeki” sangat gamblang dijelaskan dalam sebuah kitab tafsir karya seorang mufassir bernama Hamka. Di dalamnya terdapat berbagai macam uraian, konsep, cara meraih, hingga kiat-kiat memperoleh ridho Illahi.

Defisinis dari “Rezeki” menurut Hamka berupa suatu karunia Tuhan Yang Maha Esa sebagai pemberian belas kasih terhadap hamba-Nya, agar bisa makan, minum, bertahan hidup serta bertempat tinggal dengan layak.

6. Quraisy Shihab

Tidak sedikit ahli tafsir yang mencoba mendefinisikan secara luas dan mendalam mengenai arti rezeki. Akan tetapi, hanya ada beberapa di antaranya paling sering digunakan sebagai landasan kehidupan. Baik secara akademik maupun dakwah.

Quraishy Shibah sudah terkenal dengan berbagai karya tulisnya dalam bentuk kitab. Hingga, Beliau memberikan pengertian singkat mengenai “Rezeki”, bahwa merupakan suatu bentuk pemberian dari Allah Swt, baik berupa materiil (uang, makan, dll), maupun spiritual (Keimanan dan Jiwa sehat).

7. Ibnu ‘Abbas

Bagi Anda yang sebelumnya belum pernah mendengar nama kitab Hilyatul Aulia, pasti sangat asing dengan nama Ibnu ‘Abbas. Meskipun karyanya tidak banyak disebar luaskan, akan tetapi mufassir satu ini turut memberikan penjabaran singkat soal rezeki.

Ibnu ‘Abbas mengemukakan bahwa rezeki diartikan sebagai bentuk pemberian Allah sebagai tanda kasih sayang-Nya. Serta dapat dimaknai suatu apresiasi Tuhan Yang Maha Esa kepada manusia atas usaha kerasnya.

8. Raghib al-Asfahani

Tokoh ahli tafsir Raghib Al-Asfahani terkenal dengan kajian keislamannya yang bertajuk hijrah. Dimana Beliau mengemukakan secara detail bahwa hal tersebut merupakan salah satu upaya mulia dari seorang manusia demi menggapai cinta Illahi.

Di balik kehijrahan tersebut, mufassir Raghib Al-Asfahani menyelipkan pengertian rezeki dalam keseluruhannya. Yakni berperan sebagai karunia Allah terhadap kekayaan hati, iman dan takwa kepada pemilik semesta.

9. Imam Jalaluddin As-Suyuthi

Soal pembahasan sumpah tentu Anda tidak asing lagi dengan salah satu ahli tafsir Imam Jalaluddin As-Suyuthi. Kajian ke-Islamannya begitu mengena pada pembahasan sumpah. Sebagaimana, berangkat dari fenomena di kehidupan sehar-hari.

Pemaknaan tersebut, tentu tidak terlepas dari kepiawaian Imam Jalaludin AS-Suyuthi dalam menjabarkan pengertian rezeki. Bahwa, hal itu telah diberikan secara gratis oleh Allah dan bentuk kebanggaan-Nya kepada manusia.

Pengertian rezeki menurut ahli tafsir di atas, bisa Anda jadikan rujukan maupun pemahaman diri lebih mendalam. Agar mampu mendekatkan diri kepada Allah, serta tetap bersyukur apapun yang diberikan perihal kesehatan maupun materi. Karena rasa syukur adalah bukti cinta kita kepada Allah. Selain itu bersyukur juga menumbuhkan mental kaya serta rasa senang berbagi dengan sesama.

Dengan mempelajari pengertian rezeki menurut ahli tafsir di atas, semoga kita mengerti bahwa bentuk rezeki tidak hanya sebatas uang dari kerja keras. Maka dari itu sudah sepantasnya kita mencari rezeki dengan jalan yang baik serta rezeki yang halal dan barokah agar kehidupan menjadi tenang dan bahagia.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *